Standar “Siap Kerja” Sering Terasa Kabur: Memahami Kesiapan Lebih Realistis di Tengah Ekspektasi yang Beragam

Standar “Siap Kerja” Sering Terasa Kabur: Memahami Kesiapan Lebih Realistis di Tengah Ekspektasi yang Beragam

“Belum siap kerja.”

Kalimat yang terlihat dan terdengar cukup sederhana, tetapi sebenarnya terasa berat bagi mahasiswa tingkat akhir atau fresh graduate yang tengah berada di masa-masa transisi. Penilaian tersebut bisa datang dari berbagai arah, seperti proses rekrutmen, percakapan dengan orang lain, atau justru dari pikiran kita sendiri yang tanpa disadari, siap kerja berubah menjadi standar yang rasanya harus dicapai, padahal bentuknya pun tidak pernah sepenuhnya jelas.

Coba, deh, kita pikirkan… arti sebenarnya dari siap kerja itu sebenarnya apa, sih? Apakah IPK yang tinggi? Atau perlu ditambah pengalaman magang, organisasi, sertifikat, portofolio, dan kemampuan komunikasi yang baik? Semakin dicari jawabannya, semakin terlihat juga bahwa tidak ada satu definisi yang benar-benar memberikan jawaban yang pasti karena kalau dilihat, setiap perusahaan memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga setiap posisi menuntut kemampuan yang berbeda juga. 

Di sini, muncul disharmoni yang luput disadari. Kita diminta memenuhi standar yang tidak selalu dijelaskan secara menyeluruh sehingga mahasiswa berusaha mengumpulkan berbagai bukti kesiapan, seperti nilai yang baik, pengalaman organisasi, magang, pelatihan, sampai portofolio dengan harapan semua itu cukup untuk dianggap layak. Namun, setelah semua hal dilakukan, rasa belum siap tetap bisa muncul seolah-olah ada bagian yang masih kurang, meskipun kita tidak pernah tahu bagian mana yang dimaksud.

Keresahan tersebut dialami saat kita itu biasanya melihat perbedaan cara kerja antara dunia pendidikan dan dunia kerja. Di lingkungan akademik, ukuran keberhasilan itu relatif jelas dan terstruktur, seperti nilai, kelulusan, dan indikator capaian lainnya. Sedangkan dunia kerja itu tidak selalu bergerak dengan pola yang sama dengan lingkungan akademik. Penilaiannya tidak hanya bergantung pada apa yang sudah dimiliki, tetapi juga pada bagaimana seseorang berpikir, beradaptasi, dan merespons situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Perubahan seperti ini membuat banyak lulusan merasa tetap move forward, meski belum ada clear hint. 

Standar siap kerja tidak sepenuhnya berkaitan dengan kemampuan teknis. Persepsi pun turut memainkan peran. Dalam proses rekrutmen, cara seseorang menjelaskan pengalaman, menunjukkan potensi, dan menceritakan tentang diri sendiri sama pentingnya dengan pengalaman itu sendiri. Dua orang dengan kemampuan yang mirip dapat menerima penilaian yang berbeda karena cara mereka menampilkan nilai yang dimiliki tidak selalu sama. Hal seperti ini menunjukkan bahwa kesiapan kerja tidak selalu berbentuk list kemampuan yang harus dicentang seluruhnya dari awal. Dalam banyak situasi, kesiapan berkaitan dengan kemampuan yang lebih mendasar, seperti kemauan belajar, kemampuan beradaptasi, dan cara memahami dan menyelesaikan masalah. Artinya, seseorang tidak harus menunggu merasa lengkap untuk mulai mencoba karena sebagian besar proses belajar justru terjadi setelah memasuki dunia kerja itu sendiri.

Kalau begitu, mengapa tuntutan untuk siap tetap terasa mengintimidasi, ya, meskipun standarnya beragam? Nah, salah satu alasannya mungkin karena konsep siap kerja telah lama digunakan sebagai acuan yang umum. Istilah itu terus diulang dalam berbagai latar belakang, seperti kampus, pelatihan, dan diskusi karier sampai akhirnya terasa seperti sesuatu yang harus dicapai. Padahal, kalau diamati lebih dekat, kesiapan itu bukan kondisi final yang dapat dicapai sekali lalu selesai, melainkan seperti proses yang terus bergerak juga menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapi. Perspektif ini membantu kita untuk melihat proses tersebut secara lebih realistis. Daripada mencoba memenuhi standar yang tidak sepenuhnya pasti, mungkin lebih sesuai kalau kita fokus dengan hal-hal yang memang dapat dikembangkan secara jelas, seperti memperluas pengalaman, melatih cara berpikir, dan membiasakan diri belajar di situasi yang baru sekalipun. Dari situ, kesiapan tidak lagi terasa seperti tugas yang harus segera diselesaikan, tetapi sesuatu yang akan terbentuk melalui proses.

Proses tersebut bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang disepelekan, tetapi bisa berdampak besar. Misalnya, mengikuti magang meskipun belum merasa percaya diri atau mulai membangun portofolio dari proyek-proyek kecil yang sesuai dengan minat. Proses belajar juga dapat muncul dari hal-hal yang tidak langsung berkaitan, seperti bekerja sama dalam tim. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, pemahaman tentang dunia kerja akan perlahan terbentuk. Jadi, pertanyaan yang lebih membantu bukan lagi “Apakah sudah siap kerja?” melainkan “Apa yang sedang/sudah kamu pelajari dalam proses ini?”, karena dalam dunia kerja yang terus berubah, yang ada adalah proses berkelanjutan untuk memahami, menyesuaikan diri, dan berkembang.

 

(Kintan A./Sumber Gambar: Pinterest)

Tag :